CPO: Minyak Sawit Menguat, Minyak Mentah dan Pelemahan Ringgit jadi Penopang

  • CPO Malaysia naik 1,46% ke RM4.601 per ton pada Rabu.
  • Harga dibuka dengan gap naik, menandakan minat beli muncul sejak awal sesi.
  • Kenaikan ditopang minyak mentah yang menguat dan Ringgit Malaysia yang melemah terhadap Dolar AS.

Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Malaysia menguat pada perdagangan Rabu, melanjutkan pemulihan setelah sempat tertekan pada pertengahan Mei. Kontrak berjangka CPO naik 2,07% atau 95 poin ke RM4.630 per ton, setelah bergerak dalam rentang RM4.589-RM4.63 per ton.

Pergerakan hari ini terlihat cukup positif karena harga dibuka dengan gap naik dan mampu bertahan di atas area pembukaan. Ini menunjukkan minat beli muncul sejak awal sesi, namun, CPO belum sepenuhnya lepas dari rentang konsolidasi lebar beberapa pekan terakhir, sehingga kenaikan yang lebih meyakinkan masih membutuhkan dorongan lanjutan di atas area RM4.650–RM4.700.

Minyak dan Ringgit Bantu CPO

Dukungan utama datang dari pasar energi. WTI Crude Oil kontrak Juli 2026 naik 1,74% ke US$95,39 per barel, sementara Brent Crude kontrak Agustus 2026 menguat 1,75% ke US$97,68 per barel. Harga minyak yang bertahan tinggi memperkuat daya tarik CPO dari sisi biodiesel, terutama saat pasar masih mencermati risiko pasokan akibat perang AS-Iran.

Selain minyak, pelemahan Ringgit Malaysia turut memberi dorongan. USD/MYR naik 0,54% ke 3,9860, menunjukkan Ringgit melemah terhadap Dolar AS. Kondisi ini biasanya mendukung CPO karena membuat komoditas Malaysia relatif lebih murah bagi pembeli asing.

Indonesia Tetap Masuk Radar

Dari Indonesia, pasar masih mencermati masa transisi kebijakan ekspor komoditas strategis melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI, yang mencakup kelapa sawit, batubara, dan ferroalloy. Pemerintah menyebut kebijakan ini diarahkan untuk memperbaiki tata kelola ekspor dan menjaga devisa, tetapi pelaku usaha masih menunggu kejelasan teknis terkait kontrak, pembayaran, pengiriman, hingga asuransi.

Bagi pasar CPO, kebijakan tersebut dapat menambah volatilitas jangka pendek karena menyangkut arus ekspor dari Indonesia sebagai produsen terbesar dunia. Meski pengiriman disebut tetap berjalan selama masa transisi, pasar masih membutuhkan kepastian agar perubahan tata kelola tidak mengganggu rantai pasok regional.

Ke depan, arah CPO kemungkinan masih dipengaruhi kombinasi harga minyak, pergerakan Ringgit, dan perkembangan kebijakan ekspor Indonesia. Jika minyak tetap tinggi dan Ringgit masih melemah, CPO memiliki ruang untuk mempertahankan pemulihan. Namun, pasar belum sepenuhnya lepas dari sikap hati-hati selama harga belum menembus area konsolidasi secara lebih tegas.

Minyak: Pelonggaran bertahap sebagai kasus dasar – OCBC

Ahli Strategi Valas OCBC Sim Moh Siong dan Christopher Wong menegaskan kembali pandangan Fragile Oil Balance mereka, menyatakan bahwa Brent telah jatuh di bawah USD100/barel karena optimisme gencatan senjata tetapi tetap didukung oleh risiko geopolitik yang tinggi dan kerentanan Hormuz.
Đọc thêm Previous

Pound Inggris: Perdagangan dalam Kisaran dengan Nada Lembut terhadap Dolar AS – UOB

Strategi UOB Quek Ser Leang dan Lee Sue Ann menggambarkan aksi harga GBP/USD sebagai range-bound setelah penurunan singkat ke 1,3407, memprakirakan pasangan mata uang ini akan bergerak lebih rendah menuju 1,3430 sambil menjaga 1,3405 sebagai support yang jauh.
Đọc thêm Next