S&P 500 Futures Turun Menuju 3.600 karena Imbal Hasil Naik setelah Pasar Penuh Kembali
- Sentimen pasar berubah masam karena para pedagang dari Jepang, AS dan Kanada kembali setelah liburan.
- Kontrak Berjangka S&P 500 mencetak tren turun lima hari, imbal hasil obligasi pemerintah AS tetap menguat.
- Kekhawatiran akan geopolitik, taruhan The Fed yang hawkish membebani selera risiko menjelang beberapa data/acara tingkat atas.
- Penghindaran risiko kemungkinan akan berlaku mengingat prospek ekonomi global yang suram.
Kembalinya pasar penuh semakin memperkuat sentimen risk-off selama sesi Asia hari Selasa. Alasannya bisa dikaitkan dengan bias hawkish yang lebih kuat dari The Fed di tengah kesengsaraan terhadap resesi yang luas. Yang juga membebani sentimen bisa jadi adalah kekhawatiran geopolitik seputar Rusia dan Tiongkok.
Sementara yang menggambarkan sentimen, Kontrak Berjangka S&P 500 membalikkan kenaikan awal sesi Asia dan menyentuh kembali level terendah dalam perdagangan harian di dekat 3.620 selama tren turun lima hari. Lebih lanjut, imbal hasil obligasi 10-tahun pemerintah AS tetap menguat di sekitar 3,96% sementara imbal hasil dua tahun menghentikan tren naik selama empat hari di dekat 4,31% baru-baru ini.
Dengan itu, aksi penembakan yang intens oleh Rusia di Kyiv, sebagai reaksi terhadap ledakan jembatan Krimea, tampaknya telah menenggelamkan sentimen akhir-akhir ini. Di jalur yang sama mungkin adanya kekhawatiran bahwa AS dan Tiongkok bisa kembali berselisih di tengah kekhawatiran yang membayangi Taiwan dan Korea Selatan.
Di tempat lain, FedWatch Tool CME memberi sinyal peluang 78,4% dari kenaikan suku bunga 75 bp The Fed pada bulan November, yang pada gilirannya membebani sentimen. Alasannya bisa dikaitkan dengan laporan lapangan pekerjaan AS yang optimis pada hari Jumat dan beberapa komentar hawkish baru-baru ini dari para pembuat kebijakan The Fed.
"AS dapat menurunkan inflasi relatif cepat tanpa resesi atau peningkatan besar dalam pengangguran," kata Presiden The Fed Chicago Charles Evans pada hari Senin. Pengambik kebijakan itu juga menambahkan bahwa The Fed perlu "dengan hati-hati dan bijaksana" menavigasi ke tingkat kebijakan yang "cukup ketat". Perlu dicatat bahwa Wakil Ketua Federal Reserve Lael Brainard menganjurkan kenaikan suku bunga yang hati-hati untuk masa depan, menurut Wall Street Journal (WSJ).
Perlu dicatat bahwa kekhawatiran terhadao politik Inggris dan ekonomi suram dari Zona Euro juga memperkuat pesimisme pasar, yang pada gilirannya bergabung dengan imbal hasil yang lebih kuat untuk menopang Indeks Dolar AS (DXY) dan memberikan tekanan turun pada komoditas, serta mata uang Antipodean.
Selanjutnya, Risalah Rapat The Fed dan Indeks Harga Konsumen (IHK) AS, yang akan diterbitkan pada hari Rabu dan Kamis, muncul sebagai acara penting pekan ini dan tidak boleh dilewatkan. Yang juga penting adalah beberapa tajuk utama seputar Rusia dan Tiongkok.
Baca juga: Forex Hari Ini: Dolar Terus Rally karena Ketakutan